Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sungguh pahala di balik amalan puasa (baik yang wajib dan sunnah)
amat luar biasa. Semoga dengan mengetahui hal ini kita semakin
bersemangat menjalankan ibadah tersebut terkhusus pada bulan Ramadhan
dengan dasar ikhlas karena mengharap wajah Allah. Semoga Allah menerima
amalan kita sekalian.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ
ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى
سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ
فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ
أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ
عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ
رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan
dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus
kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan
puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan
membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan
karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan
yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa
dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di
sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan
adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa
adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.
(HR. Ahmad 2/467. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa
Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan
dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang
semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah
dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan
pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah
hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.
Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati
beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai
ganjaran orang yang bersabar,
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Sabar itu ada tiga macam yaitu :
[1] sabar dalam melakukan ketaatan
kepada Allah,
[2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan
[3] sabar
dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk
sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja
di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang
diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal
yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan
lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak
terhingga sebagaimana sabar.
Amalan Puasa Khusus untuk Allah
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.
Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya.
Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah
menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.
Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?
[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan
berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam
amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan
jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai
harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak
ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang
kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu terjadi
dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan
telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita
dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika
dalam kondisi seperti itu.
Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam
syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah
melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri
dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu
semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia
lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang
yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.”
Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia
berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah
mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih
suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap
ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya”.
Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini
dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding
amalan-amalan lainnya.
[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan
Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa
berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan
dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat.
Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.
Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga
Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla
berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan
kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala
akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam
kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali
satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya
Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”
Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena
itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa
tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan
bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh
amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh
pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang
tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa.
Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara
amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan
saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan
kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan
kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang
hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan
menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki
simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.
Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa
Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan
mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan
kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika
berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia
rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang
menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang
dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika
hal tersebut diperbolehkan lagi.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya
yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di
sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya
kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling
baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7)
Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah
Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas ,
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi
di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini
adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan
dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula
darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah
warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.
Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:
Pertama : Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah
rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat,
Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa
dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa
yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia
berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah
bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti
karena amalan rahasia yang dia lakukan.
Kedua : Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu
mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu
muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di
dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan
bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya.
Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena
melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah
pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang
menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di
sisi makluk ketika di dunia.
Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi
seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan
Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan
selalu mengharap ridho Allah. [ Pembahasan ini disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, hal. 268-290 ]
Demikian sajian kami kali ini. Pembahasan ini banyak penulis sarikan dari kitab Lathoif Al Ma’arif karya Ibnu Rajab Al Hambali.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.






0 komentar:
Posting Komentar